Jam enam sore, laptop ditutup, tas disampirkan, dan earphone langsung dipasang. Rute pulang kantor jadi ajang healing dadakan lewat playlist yang isinya lagu-lagu sedih. Gue juga pernah di fase ini. Hampir tiga bulan tiap pulang kerja cuma dengar lagu galau, dan hasilnya? Pagi berikutnya bangun dengan kepala penuh, mood masih kacau, kerjaan numpuk malah makin males.
Nah, dari situ gue mulai sadar: dengar musik itu bukan sekadar pencuci telinga. Ada kebiasaan-kebiasaan dengar musik yang tanpa sadar justru bikin energi anak kantor makin terkuras. Bukan musiknya yang salah, tapi cara kita mengonsumsinya. Ini empat kesalahan yang paling sering gue temui, plus cara menghindarinya.
1. Playlist "Satu Rasa" Sepanjang Hari
Kesalahan paling umum: bikin satu playlist yang isinya lagu sedih semua, lalu diputar dari berangkat sampai tidur. Alasannya klasik, "biar relate sama hidup". Padahal kalau dipikir lagi, kamu butuh energi buat rapat pagi, fokus buat bikin laporan siang, dan relaksasi buat malam. Satu rasa buat semua situasi itu sama kayak pakai baju yang sama buat kondangan dan tidur.
Baca juga: Tiap Malam 10 Menit, Musik Bikin Bayi Tidur Lebih Cepat
Gue pernah coba eksperimen kecil: minggu pertama cuma dengar lagu sedih, minggu kedua campur sesuai jam. Hasilnya beda banget. Di minggu kedua, sore hari gue nggak lagi merasa "capek hidup", cuma capek biasa karena kerjaan. Itu udah kemajuan besar.
Cara menghindarinya gampang: bikin minimal tiga playlist kecil.
- Playlist pagi — lagu dengan tempo sedang ke cepat, lirik netral atau positif. Fungsinya bangunin energi, bukan bikin renung.
- Playlist fokus — instrumental, lo-fi, atau lagu yang kamu udah hafal banget sampai nggak ganggu konsentrasi.
- Playlist pulang — ini yang paling sering salah kaprah. Boleh sedih, tapi batasi 20-30 menit, lalu ganti ke lagu yang lebih ringan.
2. Nyalain Lagu Galau Terus-terusan Sampai Jadi Kebiasaan
Ini yang paling berbahaya buat anak kantor. Dengar lagu galau sekali dua kali itu wajar, namanya juga manusia. Masalahnya kalau jadi ritual harian selama berbulan-bulan. Lama-lama otak terbiasa mengasosiasikan pulang kerja dengan perasaan berat, padahal belum tentu ada masalah beneran.
Musik itu amplifier. Kalau yang kamu puter sedih, yang kamu rasain juga makin sedih. Bukan karena lagunya jahat, tapi karena kamu kasih ruang buat perasaan itu tumbuh tiap hari.
Gue bukan bilang kamu nggak boleh sedih. Sedih itu perlu diluapkan. Tapi kalau tiap hari jam pulang cuma diisi lagu galau, kamu nggak sedang meluapkan, kamu sedang mengulang. Bedanya tipis tapi dampaknya besar.
Solusinya: kasih batas waktu. Misalnya 30 menit pertama perjalanan pulang buat lagu sedih, sisanya ganti ke lagu yang bikin kamu pengin gerak atau sekadar senyum. Kalau perlu, taruh playlist "pulang" dan playlist "sampai rumah" di urutan berbeda di aplikasi musik kamu.
3. Volume Kencang Terus, Telinga Nggak Pernah Istirahat
Ini kesalahan yang jarang disadari anak kantor. Karena kerja di depan laptop seharian, earphone practically nempel di telinga dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Belum lagi kalau meeting online pakai headset. Telinga kita nggak pernah dapat jeda.
Gue pernah ngobrol sama teman yang kerja di bidang audio, dan dia bilang satu kalimat yang nempel di kepala gue: "Telinga itu bukan otot, nggak bisa dilatih jadi kuat. Kalau rusak, ya rusak." Sejak itu gue mulai disiplin.
Aturan simpel yang bisa kamu coba:
- Aturan 60/60 — volume maksimal 60 persen, durasi maksimal 60 menit, lalu istirahat beberapa menit.
- Jeda tiap jam — matikan earphone 5-10 menit tiap jam. Bisa sambil isi air minum atau ke toilet.
- Jangan pakai earphone saat tidur — ini klise tapi masih banyak yang bandel.
Kalau telinga udah berdenging atau terasa penuh setelah seharian dengar musik, itu tanda awal yang nggak boleh diabaikan.
4. Musik Jadi Pelarian, Bukan Alat Bantu
Nah, ini yang paling dalam. Banyak anak kantor pakai musik buat menghindari hal yang nggak nyaman: deadline yang bikin cemas, atasan yang bikin kesal, atau sekadar rasa bosan. Musik diputar keras-keras supaya pikiran nggak sempat mikir.
Padahal kalau dipakai terus-terusan sebagai pelarian, musik berubah fungsi dari teman jadi selimut. Kamu nggak pernah benar-benar menghadapi sumber masalahnya. Deadline tetap ada, atasan tetap sama, cuma kamu yang makin lelah karena energi dipakai buat kabur.
Cara membedakan pelarian dan alat bantu
Gampang kok. Tanya ke diri sendiri: setelah dengar musik ini, gue jadi lebih siap ngadepin hal yang tadi gue hindari, atau malah makin males? Kalau jawabannya yang kedua, berarti kamu sedang pakai musik buat kabur.
Musik yang sehat itu yang bikin kamu balik ke meja dengan kepala lebih ringan, bukan yang bikin kamu pengin terus-terusan menghindar. Coba ganti kebiasaan: dengar musik 10 menit sebelum mulai kerjaan berat, bukan sebagai pelarian setelah kerjaan numpuk.
Mulai dari Satu Perubahan Kecil
Kamu nggak perlu langsung bongkar semua kebiasaan dengar musik kamu. Pilih satu yang paling kerasa dampaknya. Kalau gue sih, mulai dari playlist pulang yang dibatasi 30 menit. Simpel, tapi efeknya ke tidur dan mood pagi berikutnya kerasa banget.
Ingat, musik itu alat, bukan pelarian permanen. Dipakai dengan sadar, dia bisa jadi teman kerja paling setia. Dipakai tanpa sadar, dia bisa jadi bumerang yang bikin kamu makin capek tiap hari. Pilih yang mana, kamu yang tentuin.