Sabtu, 31 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Irama Kita 3cinIrama Kita 3cin
Irama Kita 3cin - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Kenapa Earphone Bikin Tuli? Mitos Musik buat Si Se...

Kenapa Earphone Bikin Tuli? Mitos Musik buat Si Sering Traveling

Banyak mitos soal musik dan pendengaran yang bikin panik. Buat kamu yang sering traveling, ini fakta yang perlu tahu.

Kenapa Earphone Bikin Tuli? Mitos Musik buat Si Sering Traveling

Gue pernah duduk di kursi pesawat sebelah om-om yang ngobrol keras banget, dan satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah menaikkan volume earphone sampai mentok. Eh, dua jam kemudian telinga gue berdenging. Saat itu gue langsung mikir, "Wah, gue bakal tuli nih." Padahal belum tentu juga. Nah, dari situ gue mulai sadar banyak banget mitos soal musik dan pendengaran yang beredar di kalangan orang yang hobi jalan-jalan, dan sebagian besar ternyata keliru.

Buat kamu yang sering berada di kereta, pesawat, bus, atau kafe bandara dengan suara bising, artikel ini bakal bantu memilah mana yang fakta dan mana yang cuma mitos yang diwariskan dari mulut ke mulut.

Mitos 1: "Dengerin Musik Volume Tinggi Sedikit-Sedikit Nggak Masalah"

Ini mitos paling bahaya, apalagi buat kamu yang traveling. Suara mesin pesawat bisa mencapai 80-85 desibel, dan di kereta bawah tanah kadang lebih. Otomatis kita cenderung naikin volume earphone supaya tetap dengar lagu. Masalahnya, telinga nggak punya tombol reset.

Baca juga: Ceklis Musikal Sepekan untuk Pensiunan: 7 Langkah Kecil

Menurut WHO, paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama bisa merusak sel rambut di koklea secara permanen. Sel rambut ini nggak bisa tumbuh lagi. Jadi kalau kamu kebiasaan dengar musik 100 desibel selama 15 menit tiap kali naik pesawat, dalam setahun bisa terkumpul kerusakan yang nggak kelihatan sampai nanti.

Yang bikin ngeri: kerusakan pendengaran itu akumulatif. Kamu nggak akan sadar sampai suatu hari tiba-tiba nanya "Hah?" ke orang di sebelahmu padahal dia ngomong normal.

Solusi praktisnya? Pakai earphone yang punya fitur noise cancelling. Dengan begitu, kamu nggak perlu naikin volume karena suara bising di sekitar sudah diredam. Ini investasi yang jauh lebih murah daripada beli alat bantu dengar nanti.

Mitos 2: "Musik Bikin Susah Tidur di Pesawat atau Kereta Malam"

Ini yang sering gue dengar dari teman-teman yang sering perjalanan jauh. Katanya, dengar musik bikin otak tetap aktif, jadi susah tidur. Padahal kenyataannya justru sebaliknya, tergantung jenis musiknya.

Riset soal musik dan tidur sudah banyak dilakukan, dan hasilnya cukup konsisten: musik dengan tempo lambat, sekitar 60-80 beats per minute, bisa membantu tubuh rileks. Itu sebabnya banyak orang yang tidur lebih cepat sambil dengar playlist ambient atau lo-fi. Yang bikin susah tidur itu bukan musiknya, tapi jenis musiknya. Kalau kamu dengar lagu rock energik atau podcast true crime sambil merem, ya jelas susah tidur.

Gue sendiri punya playlist khusus perjalanan malam yang isinya cuma piano instrumental dan suara hujan. Sejak pakai itu, tidur di kereta ekonomi pun bisa nyenyak. Jadi bukan musiknya yang salah, tapi pilihan lagunya yang perlu disesuaikan.

Bikin Playlist Tidur Perjalanan yang Bener

  • Pilih lagu dengan tempo di bawah 80 BPM
  • Hindari lagu dengan lirik yang emosional atau bikin mikir
  • Gunakan earphone yang nyaman dipakai miring, bukan yang keras menekan telinga
  • Set timer tidur di aplikasi musik supaya nggak muter sepanjang malam

Mitos 3: "Dengar Musik Sambil Nyetir Bikin Nggak Fokus"

Nah, ini yang paling sering dituduhkan ke pengemudi muda. Faktanya nggak sesederhana itu. Beberapa studi menunjukkan bahwa musik dengan tempo sedang bisa membantu menjaga kewaspadaan saat mengemudi jarak jauh, terutama di jalan tol yang monoton. Yang berbahaya justru musik yang terlalu keras atau terlalu cepat, karena bisa memicu perilaku mengemudi agresif.

Gue pernah nyoba nyetir Jakarta-Bandung tanpa musik sama sekali, dan hasilnya gue ngantuk berat di kilometer 80. Begitu nyalain playlist dengan tempo sedang, mata jadi lebih segar. Jadi bukan musiknya yang bikin nggak fokus, tapi volume dan jenisnya yang perlu diatur. Kuncinya: volume tetap di bawah 60 persen, dan pilih lagu yang nggak bikin kamu pengen ngebut.

Mitos 4: "Musik Klasik Bikin Otak Lebih Cerdas Saat Traveling"

Mitos "Mozart effect" ini sudah lama dibantah para ilmuwan. Mendengar musik klasik memang bisa bikin suasana hati lebih baik, tapi nggak serta-merta bikin IQ naik atau otak lebih cerdas. Efeknya cuma sementara, itu pun kalau kamu menikmati musiknya.

Buat kamu yang sering traveling, yang lebih penting adalah musik yang bikin kamu rileks dan siap menghadapi hal-hal nggak terduga, seperti delay pesawat atau kehilangan koper. Playlist yang tepat bisa jadi penyelamat mood, bukan peningkat kecerdasan. Jadi jangan beli headphone mahal-mahal cuma karena percaya mitos ini, ya.

Mitos 5: "Telinga Berdenging Setelah Konser atau Dengar Musik Keras Itu Normal"

Ini yang paling sering diabaikan. Telinga berdenging setelah konser atau setelah dengar musik keras itu bukan tanda "kamu menikmati musik dengan maksimal", tapi tanda peringatan. Namanya tinnitus, dan kalau dibiarkan terus-menerus bisa jadi permanen.

Gue punya teman yang hobi nonton konser festival di berbagai kota. Setelah lima tahun, dia sekarang harus pakai earplug khusus saat tidur karena dengingnya nggak pernah hilang. Ngeri, kan? Jadi kalau abis konser atau abis penerbangan panjang telinga berdenging, jangan diabaikan. Istirahatkan telinga, jangan langsung dengar musik lagi, dan kalau dengingnya bertahan lebih dari sehari, segera periksa ke dokter THT.

Buat kamu yang sering traveling, ada baiknya selalu bawa earplug. Bukan cuma buat konser, tapi juga buat tidur di hostel yang ramai atau di pesawat yang berisik. Investasi kecil, efeknya besar buat kesehatan pendengaran jangka panjang.

Intinya, musik itu teman perjalanan yang luar biasa, asal kita paham batasannya. Jangan percaya mitos yang bikin panik, tapi juga jangan abaikan sinyal tubuh. Telinga kamu nggak bisa ganti baru, jadi rawat dari sekarang sambil tetap menikmati lagu favorit di setiap perjalanan.

Tags: mitos musik kesehatan pendengaran earphone traveling volume aman