Ada satu hal yang saya sesali dari masa muda saya: terlalu gampang percaya kata orang. Terutama soal musik. Dulu, tiap ada yang bilang "musik klasik bikin anak pintar", saya langsung iyain. Tiap ada yang bilang "belajar musik harus dari kecil, kalau tua sudah telat", saya langsung percaya. Padahal, sekarang setelah saya pensiun dan punya banyak waktu buat baca-baca lagi, ternyata banyak mitos soal musik yang keliru.
Nah, di artikel ini saya mau jujur-jujuran. Ini pengakuan saya sendiri — mitos-mitos apa saja yang dulu saya telan mentah-mentah, dan kenapa ternyata itu salah. Mungkin kamu juga pernah percaya hal yang sama.
Baca juga: Pulang Kerja Masih Nyalain Lagu Galau: 4 Kesalahan Musik Anak Kantor
Mitos "Mozart Bikin Anak Jenius" yang Saya Telan Bulat-Bulat
Ini mitos paling terkenal. Konon, kalau bayi atau anak kecil didengarkan musik Mozart, otaknya jadi lebih cerdas. Saya dulu sampai beli kaset khusus musik klasik buat anak saya. Diputar tiap pagi, kadang sambil saya ikut mengangguk-angguk sok paham.
Kenyataannya? Efek Mozart itu istilah yang muncul dari penelitian tahun 1993. Tapi penelitiannya cuma melihat efek jangka pendek — sekitar 10 sampai 15 menit — pada orang dewasa yang mengerjakan tugas spasial. Itu pun hasilnya tidak konsisten saat diulang. Yang kemudian heboh di media adalah versi yang dilebih-lebihkan: "musik klasik bikin pintar".
Jadi, musik Mozart tidak mengubah IQ anak. Yang bikin anak cerdas tetap stimulasi, interaksi, dan lingkungan yang sehat. Musik cuma salah satu alatnya, bukan sihir.
Yang Saya Baru Tahu Setelah Pensiun
Begitu punya waktu luang, saya jadi rajin ikut kelas musik untuk lansia di dekat rumah. Dari situ saya sadar, banyak kepercayaan lama saya soal musik ternyata meleset jauh. Ini beberapa di antaranya.
1. "Belajar musik kalau sudah tua itu percuma"
Salah besar. Saya mulai belajar keyboard di usia 63 tahun, dan tangan saya memang kaku. Tapi setelah beberapa bulan, koordinasi jari saya membaik, dan yang lebih penting: saya jadi lebih fokus dan suasana hati lebih stabil. Banyak penelitian menunjukkan belajar alat musik di usia lanjut bisa membantu menjaga fungsi kognitif. Jadi, tidak ada kata telat.
2. "Mendengar musik sedih bikin makin sedih"
Ini juga keliru, setidaknya buat saya. Dulu saya hindari lagu-lagu sendu karena takut makin murung. Ternyata, mendengarkan musik yang sesuai suasana hati justru bisa jadi cara melepas emosi. Rasanya seperti ada yang memahami perasaan kita. Setelah itu, mood malah membaik, bukan sebaliknya.
3. "Musik keras merusak pendengaran, jadi jangan dengar musik sama sekali"
Yang benar: musik keras dalam waktu lama dan volume tinggi memang berisiko. Tapi mendengarkan musik dengan volume wajar sama sekali tidak berbahaya. Malah, bagi banyak pensiunan, musik jadi teman yang menenangkan. Kuncinya cuma soal volume dan durasi, bukan menghindari musik sepenuhnya.
4. "Anak yang belajar musik pasti jadi lebih pandai di sekolah"
Ini yang dulu saya yakini betul. Kenyataannya, hubungan antara belajar musik dan prestasi akademik itu tidak sesederhana itu. Anak yang belajar musik memang cenderung berprestasi, tapi sering kali karena mereka juga punya dukungan keluarga dan disiplin yang baik. Musik bukan penyebab tunggalnya. Jadi, jangan berharap keajaiban hanya dari les piano.
Kenapa Mitos-Musik Ini Cepat Menyebar?
Saya kira karena musik itu dekat dengan emosi kita. Kalau ada klaim yang terdengar masuk akal dan bikin hati hangat, kita cenderung percaya tanpa cek. Ditambah lagi, dulu informasi soal penelitian susah diakses. Sekarang, dengan internet, saya bisa baca sendiri penelitian aslinya — walau harus sabar menyaring.
Pelajaran terbesar saya: jangan percaya klaim soal musik hanya karena kedengarannya enak. Cek dulu, telusuri sumbernya.
Bagi kamu yang sudah pensiun seperti saya, saran saya sederhana. Nikmati saja musiknya. Mau itu dangdut, keroncong, klasik, atau lagu lawas zaman muda dulu — tidak perlu ada alasan "biar pintar" atau "biar sehat". Kalau musiknya bikin hati senang, itu sudah cukup jadi alasan.
Dan kalau ada yang bilang "musik tertentu bisa bikin kamu lebih cerdas", senyum saja. Dulu saya percaya. Sekarang, saya lebih suka percaya pada hal yang bisa saya rasakan sendiri: musik membuat hari-hari pensiun saya jauh lebih hidup.